Amerika Serikat di Vietnam dan Indonesia di Papua Barat
- account_circle Admin Original Voice
- calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh. Gembala Dr. Ambirek/t G. Socratez Yoman
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Contoh Terbaru dan Terbaik: Nonton Film PESTA BABI, karya Dandhy Dwi Laksono (Watchdoc) saat ini sedang ditayangkan melalui serangkaian nonton bareng (nobar) di berbagai kota di Indonesia sejak April 2026….”
Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman
“Bagaimana pun bodoh dan primitifnya suatu bangsa, ia akan tumbuh, berkembang dan memiliki naluri mempertahankan hidup”. (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Soekarno: Roman Zaman Pergerakan, 2002:122).
“Kamu bisa mengalahkan 30 orang pintar dengan 1 fakta, tapi kamu tidak bisa mengalahkan 1 orang bodoh dengan 30 fakta sekalipun.” —Prof. B.J. Habibie—
“MESKIPUN kebohongan itu lari secepat kilat, satu waktu kebenaran itu akan mengalahkannya,” Pepatah Belanda yang kerap diucapkan alm. Prof. Dr. Jacob Elfinus Sahetapy biasa disapa Prof. JE Sahetapy dalam setiap debat di forum-forum Hukum yang disiarkan”.
Melandasi judul artikel ini, saya mengajukan satu pertanyaan.
Apakah Indonesia di Papua Barat bernasib sama dengan Amerika Serikat di Vietnam walaupun Indonesia tidak mengalami kerugian besar dalam hal peralatan tempur seperti kerugian Amerika Serikat di Vietnam?
“Setiap dusta harus dilawan. Menang atau kalah. Lebih-lebih dusta yang mengandung penindasan“ (Mayon Soetrisno: Arus Pusaran Soekarno Roman Zaman Pergerakan, 2001, hal.369)
Kalau saya tidak tulis ini, diam, membisu, acuh tak acuh, dan takut, berarti saya orang yang paling hina dan berdosa dihadapan TUHAN dan bangsa saya yang tertindas. Dan saya jangan seperti orang bodoh berada dalam ‘zona nyaman semu dan hampa’ yang menyaksikan pemusnahan bangsa saya dari TANAH leluhur kami .
Diharapkan seluruh rakyat Indonesia dan generasi muda Indonesia tidak mewarisi dan memikul beban sejarah penjajahan yang tidak benar, bengkok, dan busuk. Sejarah kolonialisme Indonesia di era moderen atas bangsa West Papua harus dibuka kepada publik Indonesia dan komunitas global.
Rakyat dan bangsa Papua Barat sebaiknya berguru dengan pengalaman perang Vietnam dan Amerika Serikat. Amerika Serikat angkat kaki dari Vietnam karena peran Mass media.
Media massa dan Media sosial saat ini tersedia dan sangat mendukung untuk menulis dan mendata tentang fakta-fakta kejahatan Negara terhadap rakyat dan bangsa Papua Barat dari 19 Desember 1961 sampai sekarang dan sebarkan melaui WA, Face Book, internet, buku, artikel dan saluran lainnya.
Yang menjadi kekuatan dan senjata paling ampuh ialah data, fakta, bukti yang dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan pelan tapi dengan pasti, kita mendidik seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda Indonesia. Media massa mengambil peran sangat penting dan fundamental untuk mendidik seluruh rakyat Indonesia untuk mengetahui seluruh persoalan di Tanah Papua Barat.
Saya sangat berterima kasih kepada sahabat saya, PM yang memberikan motivasi dan dukungan moril yang berkaitan dengan karya-karya saya selama 24 tahun sejak tahun 2000, yaitu: menulis buku dan artikel.
Komentar sahabat saya pak PM, saya kutib sebagai berikut:
“Sejarah Papua dan keadaan Papua yang sebenarnya hanya bisa dapat dari tulisan-tulisan Tuan Gembala Socrates.
Sulit didapat dari narasi-narasi para petinggi kolonial Indonesia. Narasi-
narasi yang dibangun oleh petinggi kolonial Indonesia di Jakarta tersebar luas dan selalu mengaburkan cerita yang sebenarnya tentang Papua.
Hampir tidak ada narasi yang mengkritisi narasi Jakarta tentang Papua. Tidak ada Mass media yang bisa bangun narasi tentang apa yang sesungguhnya terjadi d Papua.
Tulisan-tulisan Tuan Gembala Socrates Yoman membuka kesadaran bangsa Indonesia tentang keadaan Papua yang sebenarnya. Tulisan-tulisan Tuan Gembala, menolong bangsa ini agar lebih obyektif melihat sejarah Papua dan buka kesadaran tentang apa yg sebetulnya terjadi ??? Memang sakit bagi orang yang termakan narasi-narasi miring yang dibuat Jakarta dalam membaca tulisan-tulisan tuan gembala.
Tapi bagi mereka yang punya nurani dan sadar akan jati dirinya dapat mengamini tulisan Tuan Gembala. Penting buat generasi muda untuk membacanya untuk mendapat pencerahan tentang jati dirinya. Who am I ???”
“Satu hal yang pasti adalah: Indonesia tidak berhasil memenangkan hati orang-orang Papua. Dalam hal itu kesadaran nasional orang-orang Papua meningkat dengan tajam” (Sumber: Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri: PJ Drooglever, 2010:787).
Dari proses pendidikan dengan data dan fakta , ada kesadaran terbangun dari seluruh rakyat Amerika Serikat. Dari kesadaran rakyat Amerika Serikat yang dibangkitkan ini, pemerintah dan pasukan tentara Amerika ditekan mundur dari Vietnam. Akhirnya tentara Amerika Serikat keluar dari Vietnam pada 1973.
*
Apakah metode efektif dan efisien ini boleh dipakai oleh rakyat dan bangsa Papua Barat untuk mendidik dan mengajarkan seluruh rakyat Indonesia dengan fakta dan data tentang krisis dan tragedi kemanusiaan, ketidakadilan, kolonialisme, kapitalisme, rasisme, diskriminasi, marginalisasi, genocide, mutilasi, pelanggaran HAM berat, dominasi, politik adu-domba/pecah belah berkepanjangan yang berlamgsung selama 65 tahun sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang ini?
Contoh terbaik dan terbaru ialah “Film dokumenter “Pesta Babi” garapan Dandhy Dwi Laksono (Watchdoc) saat ini sedang ditayangkan melalui serangkaian nonton bareng (nobar) di berbagai kota di Indonesia sejak April 2026, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Jombang, dan Jayapura. Untuk lokasi spesifik dan jadwal terbaru, disarankan memantau media sosial komunitas lokal, Greenpeace Indonesia, atau Pusaka”.
*
Latar belakang Amerika Serikat angkat kaki dari Vietnam.
Pasukan Amerika Serikat intervensi Vietnam pada April 1969 yang menghadirkan 543.000 personil pasukannya.
Pada 1973 Amerika Serikat menghadirkan orang-orang Amerika 3, 1 juta jiwa di Vietnam.
Amerika Serikat kehilangan 578 kendaraan udara tak berawak (UAV) (554 di Vietnam dan 24 di Tiongkok).
Ada sekitar 11.846 helikopter AS yang bertugas dalam Perang Vietnam. Catatan AS menunjukkan 5.607 helikopter hilang.
Secara total, militer Amerika Serikat kehilangan hampir 10.000 pesawat, helikopter, dan UAV di Vietnam (3.744 pesawat, 5.607 helikopter dan 578 UAV.
Republik Vietnam kehilangan 1.018 pesawat dan helikopter dari Januari 1964 hingga September 1973. Dan 877 pesawat Republik Vietnam ditangkap pada akhir perang (1975) dari 2.750 pesawat dan helikopter yang diterima Vietnam Selatan, hanya sekitar 308 selamat (240 terbang ke Thailand atau kapal perang AS dan 68 kembali ke Amerika Serikat.
Amerika Serikat bersama sekutunya (Republik Vietnam, Korea Selatan, Australia, Thailand, Selandia Baru), kehilangan sekitar 12.500 pesawat, helikopter, dan UAV.
Vietnam Utara kehilangan 150 – 170 pesawat dan helikopter.
Tentara Amerika Serikat meninggalkan Vietnam pada tahun 1973. Akhirnya Vietnam menjadi negara komunis .
****
MENGAPA militer Amerika Serikat angkat kaki dari Vietnam dengan kepala tertunduk atau kalah perang?
Jawabannya: Media massa, wartawan, pekerja kemanusiaan dan orang-orang yang peduli kemanusiaan dan berhati mulia yang mencintai keadilan, kesamaan derajat dan kedamaian berperan aktif mendidik dan menyadarakan rakyat Amerika Serikat dengan fakta, data, informasi yang benar, akurat dan obyektif tentang:
(1) Perilaku kekejaman militer Amerika Serikat di Vietnam; (2) Penderitaan dan korban rakyat Vietnam.(3) Korban militer Amerika dan militer Vietnam di Vietnam; (4) Kerugian material.
Dari proses pendidikan dengan data dan fakta ini, ada kesadaran terbangun dari seluruh rakyat Amerika Serikat. Dari kesadaran rakyat Amerika Serikat yang dibangkitkan ini, pemerintah dan pasukan tentara Amerika ditekan mundur dari Vietnam. Akhirnya tentara Amerika Serikat keluar dari Vietnam.
Apakah metode efektif dan efisien ini boleh dipakai oleh rakyat dan bangsa Papua Barat untuk mendidik dan mengajarkan seluruh rakyat Indonesia dengan fakta dan data tentang krisis dan tragedi kemanusiaan, ketidakadilan, kolonialisme, kapitalisme, rasisme, diskriminasi, marginalisasi, genocide, mutilasi, pelanggaran HAM berat, dominasi, politik adu-domba/pecah belah berkepanjangan yang berlamgsung selama 63 tahun sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang ini?
Kita harus dengan konsisten dan terus menerus kampanyekan 4 akar persoalan yang dirumuskan LIPI, supaya semua rakyat Indonesia dapat mengetahuinya.
Tidak ada yang tersembunyi di Papua Barat, seluruhnya telah dirumuskan empat akar persoalan Papua sudah berhasil ditemukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tertuang dalam buku Papua Road Map: Negociating the Past, Improving the Present and Securing the Future (2008).
Empat akar persoalan sebagai berikut:
1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;
(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian;
(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;
(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.
*
“Sukmatari, kau sudah melangkah. Jangan mundur. Tulis sebanyak-banyaknya tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis, umumkan, jangan sampai tak melakukan perlawanan. Ingat gadis Jepara itu, ingat Mutatuli, ingat Hatta, ingat Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, semua menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan. Ya, dengan TULISAN! Menulis dan menulis sangat berbeda, ada orang menulis untuk klangenan, ada orang menulis untuk memperjuangkan sesuatu. Dan semua patriot yang kusebut, mereka menulis untuk memperjuangkan asas. Menulis hanya sebuah cara! Tulis Sukma.Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara.” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Sukarno, Roman Zaman Pergerakan: hal. 201).
Akhir dari tulisan ini, saya ajak, mari, kita refleksi, renungkan dan belajar dari tiga nubuatan Dominee I.S. Kijne untuk seluruh Penduduk Orang Asli Papua Barat. Saya kutip sebagai berikut:
Pertama, “Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925).
Kedua, “Barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan setia, jujur, dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain”. (Pdt. I.S. Kijne, 1947.)
Ketiga, “Saya pulang dengan keyakinan bahwa Tanah dan bangsa Papua akan dikuasai oleh mereka yang mempunyai kepentingan politik atas segala kekayaan atas hasil dari Tanah itu. Tetapi mereka tidak akan membangun manusia Papua dengan kasih sayang. Sebab kebenaran dan keadilan akan diputarbalikan serta banyak hal yang baru akan membuat orang Papua menyesal. Tetapi itu bukan maksud Tuhan, karena itu keinginan manusia”. Pdt. Izaac Samuel Kijne, 1947.
Dari ketiga nubuatan dan pernyataan iman, doa, dan harapan serta kerinduan hati Pdt. Izaak Samuel Kijne yang tak terpisahkan ini terus terwujud dan terbukti dari waktu ke waktu.
Kesimpulannya, yakinlah pada waktunya seluruh rakyat Indonesia akan mengatakan rakyat dan bangsa Papua Barat berhak menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat sesuai 1 Desember 1961. Dan itu dijamin dan didukung konstitusi Indonesia: “Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan Indonesia atas bangsa Papua Barat harus dihapuskan….”.
Doa dan harapan saya supaya tulisan kecil ini menjadi berkat bagi para pembaca.
Terima kasih. Selamat membaca. Doa
Ita Wakhu Purom, 8 Mei 2026
Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua
(WPCC).
3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).
____
Kontak: 08124888458
- Penulis: Admin Original Voice

Saat ini belum ada komentar