Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat
- account_circle Admin Original Voice
- calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
- visibility 92
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman
Pada November 2007, Jaksa Agung Repiblik Indonesia melarang buku saya berjudul: PEMUSNAHAN ETNIS MELANESIA: MEMECAH KEBISUAN SEJARAH KEKERASAN DI PAPUA BARAT.
Ada tujuh buku yang dikarang Kejaksaan, termasuk buku karya Sendius Wonda yang berjudul Tenggelamnya Rumpun Melanesia.
Pelarangan buku ini dibahas di Kick Andy di Metro TV yang dihadirkan 7 penulis buku yang dilarang.
Pelarangan buku ini menimbulkan pertanyaan besar dalam hati saya. Mengapa buku saya dilarang? Negara sembunyikan apa di Papua Barat?
Pelarangan ini memberi saya inspirasi dan semangat untuk saya menulis buku. Saya pergi ke PBB foto copy hasil Pepera 1969 di Arsip PBB. Saya menemukan banyak kejanggalan dan kejahatan pemerintah Indonesia, terutama ABRI (kini: TNI).
Saya menulis buku secara konsisten betahun-tahun untuk membangun kesadaran publik tentang kejahatan negara yang selama ini disembunyikan dengan label negatif dan stigma politik seperti OPM, Separatis, Makar, KKB dan stigma lainnya.
Buku ini bertujuan untuk mendidik generasi muda Indonesia tentang sejarah pendudukan dan penjajahan Indonesia atas rakyat dan bangsa Papua Barat dari Sorong-Merauke selama sejak 19 Desember 1961 hingga sekarang.
Diharapkan generasi muda Indonesia tidak mewarisi dan memikul beban sejarah penjajahan yang tidak benar, bengkok, dan busuk. Sejarah kolonialisme Indonesia di era moderen atas bangsa West Papua harus dibuka kepada publik Indonesia dan komunitas global.
“Tulis sebanyak-banyaknya tentang bangsamu. Tulis semua yang kau tahu tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis! Sebuah tulisan, tidak akan berarti apa-apa bila tidak diumumkan…” ( Sumber: Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Soekarno: Roman Zaman Pergerakan: 2001: 203, 214).
Saya SADAR, saya MENGERTi, saya TAHU tentang penderitaan, kegelisahan dan kesusahan bangsaku, maka saya TULIS dan terus TULIS sampai bangsaku diakui sebagai bangsa merdeka dan berdaulat pada 1 Desember 1961 yang dianeksasi Ir. Sukarno pada 19 Desember 1961 dengan Maklumat Trikora.
Saya SADAR, saya MENGERTI, saya TAHU, bahwa perjungan dengan jalan menulis merupakan kekuatan yang melebihi dan melampaui batas-batas kekuatan senjata. Mulailah menulis. Anda mampu dan sanggup taklukkan bangsa kolonial firaun modern Indonesia hanya dengan ujung pena bukan dengan moncong senjata. Perjuangan melalui jalan menulis, banyak informasi gelap, kelam dan tersembunyi dapat terungkap atau dibuka ke publik.
Saya mempunyai komitmen untuk bangsaku, yaitu saya terus menulis sampai Papua Barat diakui sebagai bangsa merdeka dan berdaulat 1 Desember 1961.
Saya menulis untuk rakyat dan bangsaku.
Saya menulis untuk kemuliaan dan kehormatan bangsaku. Saya menulis untuk martabat bangsaku. Saya menulis untuk sampaikan pesan tentang penderitaan bangsaku kepada siapa saja.
Saya menulis untuk nyalakan cahaya lilin kecil untuk bangsaku. Saya menulis dengan visi kebangsaan.Saya menulis digerakkan dengan kekuatan visi, tujuan dan target.Saya menulis dengan keadaan sadar. Saya menulis apa yang saya tahu.
Saya menulis apa yang saya mengerti.
Saya tulis apa yang saya suka.
Saya menulis apa yang saya lihat.
Saya menulis apa yang saya saksikan.
Saya menulis apa yang saya alami.
Saya menulis apa yang saya pikir.
Saya tulis apa yang saya rasakan.
Saya menulis menyuarakan yang tak bersuara. Saya menulis untuk bangsaku yang tertindas dan terjajah. Saya menulis untuk bangsaku yang terabaikan. Saya menulis untuk bangsaku yang dibuat tidak berdaya.Saya menulis untuk bangsaku yang terpinggirkan dari tanah leluhur mereka.Saya menulis untuk melindungi bangsaku yang merasa ketakutan.
Saya menulis bangsaku yang dipecah-belah atau diadu-domba.Saya menulis untuk menyelamatkan bangsaku yang sedang dimusnahkan oleh penguasa Indonesia sebagai Firaun dan Goliat moderen. Saya menulis tentang sejarah bangsaku. Saya menulis tentang harga diri dan identitas bangsaku.Saya menulis pengalaman bangsaku. Saya menulis tentang harapan masa depan bangsaku.
Saya menulis untuk bebaskan bangsaku dalam rasa ketakutan. Saya menulis untuk sadarkan bangsaku yang sudah dilumpuhkan kesadaran oleh bangsa kolonial firaun modern Indonesia. Saya meneguhkan dan menguatkan bangsaku yang ragu-ragu, kecewa dan bimbang.
Saya menulis untuk umumkan secara terbuka kepada semua orang tentang krisis dan tragedi kemanusiaan, ketidakadilan, kolonialisme, kapitalisme, rasisme, diskriminasi, marginalisasi, genocide, pelanggaran HAM berat, dominasi, politik adu-domba/pecah belah berkepanjangan yang dialami bangsaku selama 63 tahun sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang ini.
Menulis merupakan pertanggungjawaban iman dan ilmu pengetahuan serta panggilan hati nurani untuk rakyat dan bangsaku Melanesia di West Papua.
Tugas dan kewajiban saya dengan jalan menulis dapat mengubah cara pandang dan berpikir orang Melayu Indonesia, terutama penguasa pemerintah Indonesia, TNI-Polri yang menduduki dan menjajah bangsaku sudah mencapai 63 tahun sejak 19 Desember 1961.
Dialog dan perundingan damai antar dua bangsa, yaitu bangsa Indonesia dan bangsa Papua Barat yang dimediasi pihak ketiga adalah suatu keharusan untuk mengakhiri spiral kekerasan di Papua Barat yang sudah memjadi luka membusuk dan bernanah di dalam tubuh bangsa Indonesia. *)
- Penulis: Admin Original Voice

Saat ini belum ada komentar