Breaking News
light_mode
Beranda » Original Voice » Tuhan Allah Tidak Melarang Papua Barat Merdeka

Tuhan Allah Tidak Melarang Papua Barat Merdeka

  • account_circle Admin Original Voice
  • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Gereja jangan berada dibawah ketiak negara. Gereja harus menjadi garam dan terang dengan posisi yang jelas di atas amanat Firman Tuhan”.

Oleh Gembala Dr. Ambirek/t G. Socratez Yoman

Tulisan ini saya alamatkan khusus untuk para pendeta, pastor dan gembala yang bertugas, bekerja dan melayani di Tanah Papua Barat dari Sorong-Merauke.

Saya mau cerita kisah nyata. Kisahnya begini: Pada Minggu, 31 November 2004,
mendiang Filep Karma yang memiliki nama lengkap Filep Jacob Semuel Karma pagi-pagi datang ikut ibadah di sebuah Gereja Baptis kecil di Port Numbay-Jayapura. Pada minggu itu, istri saya menyampaikan doa penggembalaan atau doa syafaat.

Pada saat doa itu, ibu mendoakan para pejuang Papua Barat merdeka. Dalam doa penggembalaan ibu menyebut nama OPM.

“Tuhan Yesus memberkati dan menggembalakan para pejuang Papua merdeka, OPM dan KNPB dst……”.

Sepertinya mendiang Filep Karma meneteskan air mata dalam proses doa penggembalaan sedang berlangsung.

Setelah ibadah mendiang Filep Karma sampaikan kepada saya:

“Puji Tuhan. Pak Yoman, hari ini saya benar-benar diberkati Tuhan. Karena selama hidup saya pertama kali saya dengar dari mimbar berdoa untuk Papua Merdeka”.

Saya sampaikan kepada mendiang Filep Karma:

“Kami selalu mendoakan semua umat Tuhan. Dalam Gereja Baptis ada anggota jemaat pendukung NKRI dan ada juga pendukung Papua Barat merdeka. Kami menggembalakan mereka semua”.

Saya dengar keesok harinya mendiang Filep Karma ditangkap di Lapangan Trikora pada 1 Desember 2004 waktu kibarkan Bendera Bintang Kejora.

*
Para pendeta, pastor dan gembala ingat dan sadar bahwa TUHAN Allah tidak melarang Papua Barat merdeka. Alkitab dan Alquran juga tidak melarang Papua Barat merdeka. Gereja dan Agama tidak melarang Papua Barat merdeka. Yang dilarang TUHAN Allah, Alkitab, Gereja dan agama ialah jangan membunuh dan jangan mencuri –Keluaran 20:13, 15—

Para pendeta, pastor dan gembala lihat dan perhatikan baik-baik, bahwa setiap hari minggu, Gereja terima uang persembahan dan perpuluhan dari anggota gereja pendukung NKRI dan juga pendukung Papua Barat Merdeka. Tapi, Gereja dengan setia hanya berdoa pemerintah dari pusat sampai di desa-desa, tapi waktu yang sama Gereja lupa atau rltakut berdoa untuk Papua Barat merdeka. Ini disebut Gereja tuli telinga sebelah dan buta mata sebelah. Doakanlah pendukung NKRI dan pendukung Papua Barat merdeka karena mereka semua sama-sama anggota Gereja. Tuhan Yesus berkata: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” —Yohanes 21:15-19–

GEREJA tidak boleh berada dibawah ketiak negara. Gereja didirikan oleh Tuhan di atas batu karang yang teguh (Matius 16:18-20). Sedangkan Negara didirikan atas konsensus atau kesepakatan manusia dan ia kapan saja bisa bubar. GEREJA mewartakan KASIH, KEADILAN DAN KEBENARAN dari mimbar suci, ia mengasihi semua umat TUHAN tanpa membedakan perbedaan pandangan ideologi dan nasionalisme. Gereja menyampaikan doa syafaat atau doa penggembalaan untuk umat Tuhan yang berjuang Papua Barat merdeka, TPNPB, KNPB, ULMWP, dan juga Pemerintah, aparat keamanan TNI/Polri yang bekerja untuk NKRI. Gereja ada untuk semua umat manusia”.

*
Saya berterima kasih kepada beberapa teman Muslim justeru mengerti peran gereja yang harus bersuara untuk umat yang berjuang untuk hak hidup dan hak politik mereka.

“Pernyataan ini adalah sebuah ajakan bagi Gereja untuk berani berdiri di atas semua golongan, menjadi pendamai yang jujur, dan tidak membiarkan rasa takut atau kepentingan politik menutup mata terhadap jeritan bagian dari jemaatnya sendiri.—-Fadli Husni—

*
“Keadilan dalam Doa: Mengutip metafora “tuli dan buta sebelah,” penulis menyoroti adanya ketimpangan keberpihakan. Dalam konteks pelayanan, doa seharusnya menjadi jembatan perdamaian. Mendoakan satu pihak sambil mengabaikan pihak lain yang juga menderita atau memiliki aspirasi berbeda dipandang sebagai bentuk pengabaian terhadap kemanusiaan”.—Ratih Purnama—

*
“Kritik atas “Kebisuan” Mimbar Gereja
​Bagian paling pedas dari tulisan ini adalah tuduhan bahwa gereja sedang mengalami krisis keberanian. Yoman melihat adanya kontradiksi: Gereja mengajarkan kebenaran, namun dianggap “membisu” saat berhadapan dengan isu sensitif seperti kemerdekaan Papua.—Ilham Basri—

*
TUHAN Yesus Kristus memberikan tugas kepada Rasul Petrus, para pendeta, gembala dan pastor:

“Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:15-17).

Tugas ini menekankan panggilan untuk melayani, merawat, dan memimpin, menggembalkan umat dengan kasih. Perintah ini bermakna tanggung jawab untuk semua umat Tuhan.

Para pendeta, pastor dan gembala sebaiknya menerapkan Matius 5:13-15 dalam pelayanan.

* 13: “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

* 14: “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

* 15: “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.”

Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati

Ita Wakhu Purom, 9 Mei 2026

Penulis:

1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua
(WPCC).
3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).
____

Kontak: 08124888458

  • Penulis: Admin Original Voice

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Leave a Reply

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less