Breaking News
light_mode
Beranda » Original Voice » Saya Tau dan Mengerti Penderitaan Bangsaku Karena itu saya terus bersuara dengan menulis

Saya Tau dan Mengerti Penderitaan Bangsaku Karena itu saya terus bersuara dengan menulis

  • account_circle Admin Original Voice
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • visibility 28
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara.” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Sukarno, Roman Zaman Pergerakan).

Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

Apakah Anda percaya atau tidak? Anda suka atau tidak? Anda terima atau tidak? Saya mau sampaikan:

“MELALUI buku ini, saya bermimpi dan mempunyai doa dan harapan bahwa 5 sampai 10 tahun ke depan tepatnya tahun 2031 atau 2036, sejarah palsu Indonesia di atas TANAH ini akan hilang sendirinya. Generasi muda bangsa Papua Barat akan berdiri dengan kebenaran sejarah dan ideologinya sendiri. Sebab, yang palsu tidak pernah berumur panjang”.

***

Saya senang dan suka mengutip komentar ini dalam beberapa tulisan saya. Kitipan ini menginspirasi saya untuk menulis dan menulis dan terus menulis untuk martabat bangsaku.

“Sukmatari, kau sudah melangkah. Jangan mundur. Tulis sebanyak-banyaknya tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis, umumkan, jangan sampai tak melakukan perlawanan. Ingat gadis Jepara itu, ingat Mutatuli, ingat Hatta, ingat Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, semua menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan. Ya, dengan TULISAN! Menulis dan menulis sangat berbeda, ada orang menulis untuk klangenan, ada orang menulis untuk memperjuangkan sesuatu. Dan semua patriot yang kusebut, mereka menulis untuk memperjuangkan asas. Menulis hanya sebuah cara! Tulis Sukma.Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara.” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Sukarno, Roman Zaman Pergerakan: hal. 201).

***

Saya menulis untuk menghapus air mata dan penderitaan bangsaku dan menghapus sejarah palsu Indonesia di TANAH ini.

Saya menulis untuk rakyat dan bangsaku. Saya menulis untuk kemuliaan dan kehormatan bangsaku. Saya menulis untuk martabat bangsaku. Saya menulis untuk sampaikan pesan tentang penderitaan bangsaku kepada siapa saja. Saya menulis untuk nyalakan cahaya lilin kecil untuk bangsaku. Saya menulis untuk umumkan secara terbuka kepada semua orang tentang krisis dan tragedi kemanusiaan berkepanjangan yang dialami bangsaku.

Saya menulis dengan visi kebangsaan. Saya menulis dengan tujuan. Saya menulis digerakkan dengan kekuatan visi, tujuan dan target. Saya menulis dengan keadaan sadar. Saya menulis apa yang saya tahu. Saya menulis apa yang saya mengerti. Saya menulis apa yang saya lihat. Saya menulis apa yang saya saksikan. Saya menulis apa yang saya alami. Saya menulis apa yang saya pikir. Saya tulis apa yang saya rasakan.

Saya menulis menyuarakan yang tak bersuara. Saya menulis untuk bangsaku yang tertindas dan terjajah. Saya menulis untuk bangsaku yang terabaikan. Saya menulis untuk bangsaku yang dibuat tidak berdaya. Saya menulis untuk bangsaku yang terpinggirkan dari tanah leluhur mereka. Saya menulis untuk melindungi bangsaku yang merasa ketakutan. Saya menulis untuk menyelamatkan bangsaku yang sedang dimusnahkan oleh penguasa Indonesia sebagai Firaun dan Goliat moderen.

Saya menulis tentang sejarah bangsaku. Saya menulis tentang harga diri dan identitas bangsaku. Saya menulis pengalaman bangsaku. Saya menulis tentang harapan masa bangsaku.

Saya menulis untuk bebaskan bangsaku dalam rasa ketakutan. Saya menulis untuk sadarkan bangsaku yang sudah dilumpuhkan kesadaran oleh bangsa kolonial Indonesia. Saya meneguhkan dan menguatkan bangsaku yang ragu-ragu, kecewa dan bimbang. Saya tahu, sadar dan mengerti menulis tidak melukai dan tidak membunuh, menulis adalah menyalakan lilin kecil untuk menerangi lorong-lorong kecil yang gelap.

Menulis merupakan pertanggungjawanan iman dan ilmu pengetahuan serta panggilan hati nurani untuk rakyat dan bangsaku Melanesia di West Papua.

Tugas dan kewajiban saya dengan jalan menulis dapat mengubah cara pandang dan berpikir orang Melayu Indonesia, terutama penguasa, TNI-Polri yang menduduki dan menjajah bangsaku.

Terima kasih. Selamat membaca.

Ita Wakhu Purom, 17 Februari 2026

Kontak: 08124888458

  • Penulis: Admin Original Voice

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Leave a Reply

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less