Breaking News
light_mode
Beranda » Original Voice » 25 Tahun Saya Menulis Untuk Membangun Kesadaran Ideologi dan Nasionalisme Bangsaku

25 Tahun Saya Menulis Untuk Membangun Kesadaran Ideologi dan Nasionalisme Bangsaku

  • account_circle Admin Original Voice
  • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
  • visibility 94
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Tulis sebanyak-banyaknya tentang bangsamu. Tulis semua yang kau tahu tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis! Sebuah tulisan, tidak akan berarti apa-apa bila tidak diumumkan…” ( Sumber: Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Soekarno: Roman Zaman Pergerakan: 2001: 203, 214).

Oleh Gembala Dr. Ambirek G. Socratez Yoman

Saya SADAR, saya MENGERTi, saya TAHU tentang penderitaan, kegelisahan dan kesusahan bangsaku, maka saya TULIS dan terus TULIS sampai bangsaku diakui sebagai bangsa merdeka dan berdaulat pada 1 Desember 1961 yang dianeksasi Ir. Sukarno pada 19 Desember 1961 dengan Maklumat Trikora.

Pada 10 Mei 2024 jam 05:26 pagi seorang sahabat lama saya PM mengirim tulisan kepada saya. Tulisann sahabat saya ini saya kutip sebagai berikut:

“Tulisan Tuan sangat membantu untuk buka kesadaran baru, perspektif baru bangsa ini. Selama ini narasi-narasi yang dibangun Jakarta mengaburkan karena berakar pada cara pandang yang rasis dab kolonial. Tulisan Tuan Gembala membuka mindset baru, kesadaran baru bangsa kolonial yang rasis ini. Saya salut atas tulisan-tulisan Tuan dan menaruh respek tinggi, karena tulisannya jitu, buka simpul-simpul yang kabur, menyatakan kebenaran, buka kesadaran manusia, baik OAP maupun amber. waaaa halawok”.

“Tulis semua yang kau tahu tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis! Sebuah tulisan, tidak akan berarti apa-apa bila tidak diumumkan. Tulisan itu menjadi suara hanya bila telah disebarluaskan, karena itu jangan ragu-ragu untuk mengumumkan tulisan. Tulisan kaum pergerakan menjadi kekuatan sesudah dibaca orang. Karena itu jangan ragu-ragu umumkan tulisanmu. Kau akan menumbuhkan suatu kekuatan tak terduga.” ( Sumber: Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Soekarno: Roman Zaman Pergerakan: 2001: 203, 214).

Saya SADAR, saya MENGERTI, saya TAHU, bahwa perjungan dengan jalan menulis merupakan kekuatan yang melebihi dan melampaui batas-batas kekuatan senjata. Mulailah menulis. Anda mampu dan sanggup taklukkan bangsa kolonial firaun modern Indonesia hanya dengan ujung pena bukan dengan moncong senjata. Perjuangan melalui jalan menulis, banyak informasi gelap, kelam dan tersembunyi dapat terungkap atau dibuka ke publik.

Melalui pena mampu dan sanggup menghancurkan dan memporak-porandakan sebuah Negara sekuat apapun. Ujung pena mampu dan sanggup membawa perubahan dalam sebuah Negara, masyarakat dan dalam diri seseorang. Ujung pena mampu menghancurkan tembok-tembok keangkuhan, kejahatan, ketidakadilan, dan kolonialisme maka kita dalam menulis itu harus disampaikan informasi, data, dokumen, fakta, dan realitas dengan benar, adil, jujur dan tulus.

Saya senang dan suka mengutip komentar ini dalam beberapa tulisan saya. Kitipan ini menginspirasi saya untuk menulis dan menulis dan terus menulis untuk martabat bangsaku.

“Sukmatari, kau sudah melangkah. Jangan mundur. Tulis sebanyak-banyaknya tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis, umumkan, jangan sampai tak melakukan perlawanan. Ingat gadis Jepara itu, ingat Mutatuli, ingat Hatta, ingat Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, semua menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan. Ya, dengan TULISAN! Menulis dan menulis sangat berbeda, ada orang menulis untuk klangenan, ada orang menulis untuk memperjuangkan sesuatu. Dan semua patriot yang kusebut, mereka menulis untuk memperjuangkan asas. Menulis hanya sebuah cara! Tulis Sukma.Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara. …..” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Sukarno, Roman Zaman Pergerakan: hal.
201).

Saya mempunyai komitmen untuk bangsaku, yaitu saya terus menulis sampai Papua Barat diakui sebagai bangsa merdeka dan berdaulat 1 Desember 1961.

Saya menulis untuk rakyat dan bangsaku.

Saya menulis untuk kemuliaan dan kehormatan bangsaku.

Saya menulis untuk martabat bangsaku.

Saya menulis untuk sampaikan pesan tentang penderitaan bangsaku kepada siapa saja.

Saya menulis untuk nyalakan cahaya lilin kecil untuk bangsaku.

Saya menulis dengan visi kebangsaan.

Saya menulis digerakkan dengan kekuatan visi, tujuan dan target.

Saya menulis dengan keadaan sadar.

Saya menulis apa yang saya tahu.

Saya menulis apa yang saya mengerti.

Saya tulis apa yang saya suka.

Saya menulis apa yang saya lihat.

Saya menulis apa yang saya saksikan.

Saya menulis apa yang saya alami.

Saya menulis apa yang saya pikir.

Saya tulis apa yang saya rasakan.

Saya menulis menyuarakan yang tak bersuara.

Saya menulis untuk bangsaku yang tertindas dan terjajah.

Saya menulis untuk bangsaku yang terabaikan.

Saya menulis untuk bangsaku yang dibuat tidak berdaya.

Saya menulis untuk bangsaku yang terpinggirkan dari tanah leluhur mereka.

Saya menulis untuk melindungi bangsaku yang merasa ketakutan.

Saya menulis bangsaku yang dipecah-belah atau diadu-domba.

Saya menulis untuk menyelamatkan bangsaku yang sedang dimusnahkan oleh penguasa Indonesia sebagai Firaun dan Goliat moderen.

Saya menulis tentang sejarah bangsaku.

Saya menulis tentang harga diri dan identitas bangsaku.

Saya menulis pengalaman bangsaku.

Saya menulis tentang harapan masa depan bangsaku.

Saya menulis untuk bebaskan bangsaku dalam rasa ketakutan.

Saya menulis untuk sadarkan bangsaku yang sudah dilumpuhkan kesadaran oleh bangsa kolonial firaun modern Indonesia.

Saya meneguhkan dan menguatkan bangsaku yang ragu-ragu, kecewa dan bimbang.

Saya menulis untuk umumkan secara terbuka kepada semua orang tentang krisis dan tragedi kemanusiaan, ketidakadilan, kolonialisme, kapitalisme, rasisme, diskriminasi, marginalisasi, genocide, pelanggaran HAM berat, dominasi, politik adu-domba/pecah belah berkepanjangan yang dialami bangsaku selama 63 tahun sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang ini.

Menulis merupakan pertanggungjawaban iman dan ilmu pengetahuan serta panggilan hati nurani untuk rakyat dan bangsaku Melanesia di West Papua.

Tugas dan kewajiban saya dengan jalan menulis dapat mengubah cara pandang dan berpikir orang Melayu Indonesia, terutama penguasa pemerintah Indonesia, TNI-Polri yang menduduki dan menjajah bangsaku sudah mencapai 63 tahun sejak 19 Desember 1961.

Dialog dan perundingan damai antar dua bangsa, yaitu bangsa Indonesia dan bangsa Papua Barat yang dimediasi pihak ketiga adalah suatu keharusan untuk mengakhiri spiral kekerasan di Papua Barat yang sudah memjadi luka membusuk dan bernanah di dalam tubuh bangsa Indonesia. (*)

  • Penulis: Admin Original Voice

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Leave a Reply

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less