Mengapa Saya Menjadi Penulis?
- account_circle Admin Original Voice
- calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Saya penulis CERPEN terbaik di Kelas I SMA Negeri Wamena (waktu itu) dibawah asuhan guru bahasa Indonesia Stefanus Naban”.
Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman
Saya memang terlahir seorang penulis bertalenta. Saya terlahir penulis adalah anugerah Tuhan.
Saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam menulis. Setiap ide mengalir begitu saja dan saya abadikan dalam setiap lembaran buku yang ada di tangan Anda sekalian.
Saya terlahir penulis. Saya didukung penuh kedua orang tua saya waktu masih di Sekolah Dasar di kampung tahun 1970-an.
Kisah singkat. Waktu libur sekolah, ayah dan ibu saya memberikan waktu untuk membaca buku. Ayah dan ibu saya meletakkan landasan dalam hidup saya untuk mencintai membaca buku. Ayah dan ibu saya benar-benar memberkati saya untuk menjadi pintar dan penulis. Saya sangat berhutang budi kepada kedua orang special dalam hidup saya.
Kaka perempuan juga sangat berjasa kawal saya waktu saya pergi dan pulang sekolah. Kaka perempuan sangat bangga karena saya tidak mengecewakan dia.
Walaupun saya sudah menjadi pemimpin, kaka perempuan sering menangis kalau lihat saya berdiri di depan orang banyak. Suatu waktu saya sampaikan kepada kakak: “Kaka sayang, ko jangan menangis, ko lihat, saya sudah menjadi orang besar ini. Kaka harus bangga, jangan menangis”.
Ayah selalu ingatkan saya. “Kamu boleh pergi bermain dengan teman-teman, tapi, ingat dua hal: belajar atau membaca buku dan cari kayu bakar”.
Gaya hidup yang ditanamkan kedua orang tua saya di SD itu terbawa ke SMP, SMU dan perguruan tinggi sampai sekarang ini.
Waktu di SD, SMP, SMU bahkan di Universitas, saya sering ambil kertas, majalah, korang yang dibuang. Saya membaca tulisan dari kertas itu. Tuhan Yesus tunjukkan kata-kata dari kertas itu dan memberkati saya.
Kalau saya tiba di Airport dimana saja, saya selalu mampir ke toko buku. Pasti saya beli dua sampai tiga judul. Saya selalu berdiskusi dan berdialog dengan penulis buku melalui setiap kata dan kalimat dalam buku itu. Mereka memberikan ilmu pengetahuan, wawasan dan kepintaran.
Anda juga bisa. Coba, baca buku sekarang, cukup 1 atau 2 halaman. Besok 3 atau 4 halaman. Baca harus dengan komitmen: “saya ingin punya wawasan luas. Saya ingin menjadi penulis”.
Membaca buku, maka untuk menulis artikel atau buku sangat mudah dan gampang. Bacalah buku. Anda pasti bisa.
Tuhan Yesus memberkati Anda yang membaca artikel pendek ini.
Ita Wakhu Purom, 8 April 2026
Kontak: 08124888458
- Penulis: Admin Original Voice

Saat ini belum ada komentar