Papua Barat Itu Merdeka Itu Pasti dan Hanya Persoalan Waktu
- account_circle 7ay4k
- calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
- visibility 502
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
(1) Nilai milyaran atau triliunan rupiah;
(2) Otonomi Khusus Jilid 1, 2001 dan Jilid 2 tahun 2021;
(3) Kunjungan Presiden 19 kali ke Papua Barat;
(4) Pembangunan Papua Christian Center (PCC);
(5) Pembangunan Youth Center Papua (YCP);
(6) Pemekaran DOB boneka Indonesia;
(7) Wakil Presiden berkantor di Papua Barat.
Usaha-usaha yang saya sebut ini tidak menyentuh AKAR konflik Papua Barat. Masalah Papua seperti luka membusuk dan dan bernanah itu sudah dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sudah tertuang dalam buku Papua Road Map, yaitu 4 akar persoalan sebagai berikut:
(1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;
(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian;
(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;
(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.
Penguasa Indonesia HARUS menyelesaikan 4 akar persoalan ini.
“Kebenaran sejarah yang ditulis dengan darah dan air mata serta penderitaan rakyat kecil tidak akan dihapus atau ditutupi dengan kebohongan yang ditulis dengan tinta.”
Petrus Maninemnarba menyampaikan doa, harapan, kerinduan hati bangsa Papua Barat sebagai berikut:
“Berhenti membunuh orang Melanesia, kami juga butuh kebebasan dan hak hidup, menikmati alam yang TUHAN, berikan kepada kami dengan damai”
Dotin Yikwa mengatakan:
“Tidak ada golongan paulus,tidak ada golongan Apolos dan tidak ada golongan Yesus. Tidak ada orang Yahudi,tidak ada orang barbar,tidak ada orang Yunani,tidak ada orang bersunat,orang skit,budan dan orang merdeka. Yang ada adalah : *Orang beriman dalam YESUS KRISTUS.”
MARI, KITA MEMPERJUANGKAN KEADILAN, MARTABAT KEMANUSIAAN, KESETARAAN, KESAMAAN DERAJAT UNTUK PERDAMAIAN PERMANEN DI PLANET INI
Mari, Anda Kristen atau Muslim, Hindu atau Budha, Konghucu atau Atheis, Komunis atau Kafir, rambut keriting atau rambut lurus, kulit hitam atau putih, kulit kuning atau sawo matang, Anda Penduduk Asli Papua atau Pendatang, kita bersama-sama adalah MANUSIA.
Kita sama-sama melawan RASISME dan Kekerasan atas nama Agama. Kita melawan HOAX yang diciptakan penguasa sedang berjalan telanjang sekarang ini.
Kita bersama-sama menjaga martabat manusia dan memperjuangkan keadilan yang nyata demi mewujudkan kehidupan harmoni dan perdamaian permanen di Tanah Papua Barat, di Indonesia dan dalam komunitas global.
Dalam buku saya berjudul: KUASA KATA-KATA” (Yoman, 2022:115), saya abadikan keyakinan dan ideologi saya: JANGAN SIBUK MENGURUS KEYAKINAN IMAN ORANG LAIN”, seperti saya kutip di bawah ini.
“Kita jangan sibuk mengurus atau menggangu agama, keyakinan dan pandangan ideologi orang lain. Itu sama saja kita menjadi bagian dari orang-orang yang ikut terlibat menciptakan kegaduhan dan kekacauan dunia. Sebaliknya, kita harus sibuk merawat dan membangun iman kita masing-masing, supaya kita menjadi seperti lilin yang bercahaya untuk kedamaian dunia.” ….kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Filipi 2:15c).”
“Praktek dalam memelihara dan merawat serta menumbuhkan iman, orang Kristen berkewajiban menjadi penjaga dan pelindung saudara-saudara Muslim, Hindu, Budha, Koghuchu, Komunis, Atheis. Sebaliknya, saudara-saudara Muslim, Hindu, Budha, Koghuchu, Komunis, Atheis menjadi penjaga dan pelindung saudara-saudara beragama Kristen Protestan dan Katolik.”
“Kita boleh berbeda dalam agama, keyakinan iman, dan pandangan ideologi serta asal sukudan etnis, tapi kita tetap bersaudara atau bersahabat dalam spirit KEMANUSIAAN DAN KESETARAAN. Persaudaraan dan persahabatan antar sesama manusia tidak dapat diperoleh dengan harga murahan dan dengan cara membeli dengan sejumlah besar uang. Nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan yang sejati dibangun dengan saling percaya, saling menerima, saling menghormati dan menghargai dalam berbagai perbedaan.”
“Persaudaraan, persahabatan dan pertemanan dengan saling percaya itu kunci dalam kehidupan realitas di planet atau di bumi ini, karena kami tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dan pertolongan orang lain.”
“Saya mau memberikan satu contoh atau gambaran sederhana. Pada saat satu orang beragama Kristen sedang ada di Pantai dan semua yang ada di Pantai itu adalah 100% orang-orang non Kristen. Pada saat itu, orang Kristen ini sedang mandi di pantai dan hampir tenggelam dan dia berteriak meminta tolong. Apakah orang-orang non Kristen itu harus pergi panggil orang Kristen untuk datang menolong untuk keselamatan nyawa orang Kristen yang berada dalam bahaya di laut ini? Saya yakin, orang-orang non Kristen yang berada di pantai itu bertindak menolong dan menyelamatkan orang Kristen yang hampir tenggelam mati dalam laut itu.”
“Hidup ini saling membutuhkan dan saling menolong, maka jangan sibuk dan mengganggu agama, keyakinan iman dan pandangan politik orang lain. Kita harus menghargai perbedaan. Alangkah indahnya kehidupan yang memelihara keharmonisan diantara seama manusia tanpa membeda-bedakan agama, keyakinan iman dan pandangan ideologi, status sosial, dan latar belakang pendidikan serta kehidupan ekonomi.”
Semoga ada pencerahan. Selamat membaca. Tuhan memberkati.
Ita Wakhu Purom, 1 September 2023
Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota Dewan Gereja Papua
(WPCC).
3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota Alliansi Baptis Dunia (BWA).
08124888458
- Penulis: 7ay4k

Saat ini belum ada komentar